Aku sangat mengagumi dirinya, sosok laki-laki pintar yang tau dan menalami banyak hal. Ia begitu perhatian sekaligus memberiku kebebasan. Dan dia adalah kekasihku yang seolah menerimaku tanpa syarat, yang mengetahui sisi kelaku dahulu. Atau sebenarnya dia tidak terlalu pedulli dengan berbagai peristiwa buruk yang kualami di masa lalu. Entahlah........
Kekasihku adalah sosok yang rumit, perlu pemahaman ekstra untuk mengerti dirinya, perlu usus yang panjang dalam menghadapinya. Sejauh ini aku melihatnya sebagai laki-laki yang setia sehingga menurutku tidak akan ada permasalahan yang muncul akibat penghianatan. Kemungkinan besar justru aku yang akan menghianati dia, tapi sebisa mungkin hal itu tidak akan kulakukan.
Kukirimkan pesan singkat untuk kekasihku, dari tempatku berada. Pesan singkat seperti biasa, sekedar menyapa selamat pagi. Seperti biasa juga, tidak akan dibalas olehnya, mungkin dia juga menyadari bahwa smsku tak lebih dari sekedar basa-basi untuk menunjukkan eksistensiku sebagai kekasihnya.
Kemudian aku berpikir dalam, benarkah aku mencintai kekasihku?
Karena pada kenyataanya aku terus menyalakan api di dadaku agar perasaanku kepadanya tidak berubah. Bukankah ini semakin menjebakku dalam hubungan yang tak tentu dengan kekasihku?aku menjadi sulit membedakan, apakah aku mencintainya, ataukah hanya sekedar mengaguminya?
Bertemu dengan kekasihku membuat kesuperioritasanku hilang, sesuatu yang tidak pernah kulakukan dengan kekasih-kekasihku sebelumnya. Mungkin aku terlalu mengaguminya, dia teramat sangat cerdas. Apa yang tidak dia ketahui tentang dunia ini, bak ensiklopedia dia punya jawaban yang memuaskan atas semua pertanyaanku.
hingga pada suatu kesimpulan...I DON’T LOVE U AS MUCH I HAD EXPECTED.”
Sementara kemarin, aku memikirkan hal yang sama dan tidak terlintas sedikitpun untuk mengatakan kepadanya. Mungkin aku memang tidak pernah jujur dalam hubungan ini.
Selamat datang di jebakan level dua, berjalan bersama dan hampa.......
U’r so inspiring

